Thursday, 15 August 2019

Alkisah Dari WhatsApp Yang Tidak Pernah Diduga

Tags

Repost dari  temen kisah nyata 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Bismillahirrahmanirrahiim..

Cerita ini saya bagi atas seizin sahabat saya. Dengan tidak menyebutkan nama dan tempatnya berasal.

Sebut saja suaminya adalah mas A.
Sosok lelaki berwajah cukup tampan untuk seorang pria, profesinya dulu seorang eksekutif sebelum bisnisnya bangkrut dikota kembang.

Ditambah, mas A adalah suami yang paham dan taat beragama. Dilingkungan tempat tinggal mereka, mas A salah satu pengurus masjid.

Mas A terbilang sangat aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.

2 minggu sebelum mas A wafat..
Beliau sempat mengantarkan saya ke bank.

Dijalan, mas A cerita bahwa dirinya terlibat hutang kartu kredit bank sebesar 50jt.

Mas A kemudian bertanya sama saya,
"In, bisa ngga ya kalo gue ke bank mengajukan keringanan, karena gw udah kaga gawe nih, cuma ngojek onlen sama jualan makanan burung".

Saya saat itu cuma jawab, dicoba aja mas.
Emang bank ABC juga?

Mas A jawab, bukan sih.

Setelah hari itu...
Saya ngga lagi dengar kabarnya.

Saya di tlp bibi dibandung yang kasih kabar kalo mas A masuk RS.
saya belum sempat datang untuk nengok mas A dirs.

Beberapa hari kemudian saya dikabari anaknya kalo mas A sudah koma dan dipindahkan rs nya, karena alat di rs sebelumnya tidak lengkap.

Innalillahi...
Emang mas A sakit apa??
Segera aaya sempatkan pulang kebandung untuk menengok kondisi suami sahabat saya.

Disana saya jumpa istri mas A.
Saya lihat, mata sahabat saya bengkak menghitam.
Seperti bekas menangis semalaman.

Saya peluk erat teteh B, sabar ya teh.. banyak doa.
Hanya itu yang bisa saya bisikan ditelinga sahabat saya.

Saya sedikitpun ngga melihat ada keanehan dari teteh B, saya hanya mengira beliau murung karena lelah menjaga suaminya di ICU.

Saat itu, saya masih diizinkan berjumpa mas A, boleh masuk tapi ngga bisa lama. Begitu kata perawat jaga.

Seperti biasa, saya diberi masker dan baju khusus.
Saya melihat mas A hanya terbaring tak berdaya.

Menjelang magrib saya pulang...

Beberapa hari setelah itu, saya dengan kabar mas A meninggal dunia.

Setelah shalat magrib saya dan suami siap siap ingin takziah.

Tiba-tiba saya ditlp bibi, "teh, kamu kalo mau takziah jangan bawa Difa.

Tadi bibi dengar, kalo Mas A katanya sakit paru-paru Dimandikan dokter pakai karbol dan sudah dibungkus plastik dari rumah sakit.

Setibanya dirumah duka, saya lihat jenazah mas A, dan ada pesan petinya tidak boleh dibuka karena malam itu juga akan dimakamkan.

Saya peluk sahabat saya, tapi mbak B terlihat menatap benci ke jenazah suaminya.

Waktu saya peluk, mbak B bilang sama saya:
"Biar mampus! Najis! Mati juga akhirnya!.

Saat itu saya kaget, tapi cuma menenangkan, istighfar teh astagfirullah.. astagfirullah..

Saya bingung, kenapa sahabat saya sekasar itu dihadapan jenazah suaminya.

Tapi saya urungkan niat untuk ngobrol lebih dalam karena masih dalam suasana duka dirumahnya.

Keluarga sahabat saya ini, MasyaAllah.. mereka tak pernah terdengar ada keributan, anak anak mereka soleh soleha yang juga berpestasi disekolahnya.

6 bulan berlalu...
Kemarin, teteh B tlp saya.

Teh, bolehkan saya kerumah?
Saya ingin cerita, karena sudah tak sanggup lagi..

Pagi tadi teteh B datang jauh-jauh dari kota kembang..

Beliau membuka pembicaraan dengan saya.

Teh, masih ingatkan tth sewaktu saya meludahi jenazah suami saya sambil bilang mampus akhirnya mati juga lo. ??

Saya mengangguk, iya masih ingat. Kenapa mbak bicara begitu, bukannya bersaksi bahwa suamimu lelaki yang sholeh..

Teh.. Suami saya sering pulang malam, jam 1 jam 3 pagi baru sampe rumah, alasannya lembur dan sibuk meeting

Setahun belakangan sebelum mas A meninggal, saya sering didatangi debt collector kartu kredit.

Hutang mas A sudah hampir 150juta, ngga bayar cc.

Saya heran, hutang apa.. uang sebanyak itu untuk apa...

Setiap kali ditanya, mas A marah, dan selalu bilang, buat makan elo!.

Sebulan ini saya perhatikan suami saya pulang tengah malam, dan selalu langsung mandi wajib.

Mas abis ngapain, kok mandi?
Gerah, abis futsal.

Saya...
Sekalipun ada sedikit curiga, berusaha tenang.
Jujur teh ina..
Saya sudah lupa kapan terakhir saya jima dengan suami
Entahlah, 3 tahun lalu mungkin.

Malam berikutnya, saya cium aroma busuk entah darimana.
Saat mas A tidur, saya cari tau darimana bau busuknya.
Ditas mas A saya temukan celana dalam.

G-STRING pria dan aneka ragam pelumas.
Astagfirullah.....
Saya bangunkan dia.

Mas ini apa??
Dia jawab, paan sih lo, geratak aja!
Itu celana buat olahraga.

Saya yang polos ini percaya saja teh.
Sampe kemudian...

Beberapa kali sehabis mas A mandi, saya selalu lihat bercak bercak darah segar dilantai.

Mas, kamu kenapa sih?
Kok berdarah?
Mas A cuma jawab, gue panas dalem kali nih makan pedes terus.
Lagi lagi.. saya percaya teh.

Tak lama...
Anak kami teriak.

Papih!!
Astagfirullah pih, ini foto apa!!???
Mas A buru buru merampas hp dari tangan anak lelaki kami satu satunya.

Lagii lagiii...
Saya percaya, bahwa foto seronok dihp nya kiriman kawannya yg iseng.

Sampailah...
Mas A tiba-tiba terkena penyakit kulit, gatal gatal sampai ruam parah, ternyata itu herpes.
Kemudian makin melebar sampai keluar nanah berbau busuk dan diare terus terusan, sampai darah yang keluar.

Itulah asal muasal suami saya saya larikan ke RS teh.

Bbrp minggu di RS, kondisinya makin menurun.
Sampai tiba saatnya dokter menyampaikan hal yang membuat jiwaku terguncang.

Ketika..
Dokter izin untuk melakukan test darah kepada suami saya teh.

Hasilnya mas A positive HIV AIDS.

Ya Allah Rabbi .....
Saya tak sanggup lagi...

Kemudian, dokter bertanya banyak hal sama saya.
Mulai dari kebiasaan dan gaya hidup suami saya sebelum sakit dan sebelum usaha kami bangkrut.

Singkatnya..
Darah yang saya temui dikamar mandi berasal dari anusnya.
Foto yang anak kami temukan adalah gambar pasangan sesama jenis yang sedang berhubungan intim.

Celana dalam G-String yang saya temukan adalah miliknya yang kemungkinan suami saya adalah menjadi wanitanya.

Dan..
Hutang kartu kredit ratusan juta adalah, untuk membiayai pasangan homonya.

Teh, suami saya meninggal karena HIV AIDS dan dia homo sexual.

Tapi saya dan anak-anak sudah melalui serangkaian test darah, alhamdulilah kami negative.
.
.
.
Teman-teman...
Saya mendengar ceritanya sungguh, tak sanggup berkata kata, terdiam berurai air mata.

Menatap dan menggenggam erat jari jemari sahabat masa kecil saya, yang tertunduk, hidupnya kini berat..
Harus menafkahi ke 4 anaknya yang masih usia sekolah.

Dan harus menangung beban hutang kebank akibat perbuatan menjijikan suaminya.

Astagfirullah...

Cerita ini saya bagi, atas seizinnya.
Berharap siapapun suami atau istri yang membaca ceritanya, bisa mengambil hikmahnya.

😒😭😭😭😭😭
Ya Allah...
Lindungilah aku, suamiku anak cucuku dari godaan syetan yang terkutuk.

Ya Allah...
Ampuni kami.. ampuni segala dosa dosa kami.

Ya Allah lindungilah suamiku dan anak anaku dimanapun mereka berada. 😭😭🀲🀲



Mohon komentar yang bermanfaat...
Orang bijak, komentarnya juga bijak n_n


Your comment will be moderated first before posted

Thanks
EmoticonEmoticon