Wednesday, 12 July 2017

Idola Akhwat dan Pernikahan



Akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000, kawula muda muslim di Indonesia tercatat sedang tinggi ghirahnya (ghirah = semangat).
Remaja putri berbondong-bondong menutup aurat, mengenakan jilbab yang pada jaman sebelumnya dianggap kucel dan tidak kece.
Pilihan bacaan bergeser dari majalah Gadis dan Mode menjadi Annida. Kisah-kisah fiksi Islami bertaburan dan sempat meraja.
Di segmen hiburan, lahir pula sederet grup-grup nasyid yang mengenalkan warna baru dalam lagu. Tak hanya lirik reliji yang syahdu dalam karya musik Bimbo namun menjadi sajian nada indah dari Raihan dan SNADA.
Makin ke sini bertambah grup-grup nasyid yang lebih semarak. Dari yang mendayu-dayu sampai yang ngerap. Muncul pula grup-grup yang personilnya lebih muda, dan lebih ganteng.
Di era 2002-2005 saya mengingat banyak sekali munsyid (sebutan untuk penyanyi nasyid) yang muda dan 'digilai' para muslimah. Saya sering menyaksikan wajah berbinar seorang akhwat saat bercerita betapa kerennya grup nasyid anu, betapa meriah konsernya, dan betapa sukanya ia pada personil tertentu.
Dulu, sempat saya berbincang dengan rekan sejawat mengenai fenomena nasyid ini. Kami mempertanyakan apa bedanya histeria para akhwat saat nonton konser nasyid dengan histeria remaja lain saat nonton boyband barat? Sama-sama jerit-jerit dan teriak, "iih gemeees".
Beberapa waktu terakhir ini, saya menyaksikan fenomena yang mirip. Dimulai dari Fatih Seferagic, hafiz muda asal Amerika Serikat yang pernah diundang ke Indonesia. Diundang ke sana kemari (which I don't mind, really), dan .... dipuja para akhwat.
Saya sempat melihat video saat Fatih diundang ke Bandung, berdampingan dengan Kang Emil dan banyak remaja putri yang berteriak tertahan menyaksikan ketampanan (?) Fatih. Ibu-ibu tak ketinggalan. Kaum perempuan berebut ingin berfoto bersama Fatih.
Pekan ini, giliran Muzzamil Hasballah yang menjadi fokus. Ia menjadi tersangka utama gerakan patah hati nasional (setelah sebelumnya dipegang oleh Raisa-Hamish).
Selama beberapa hari, saya melihat banyak akhwat memasang tagar patah hati nasional, sebab Muzzamil yang saleh dan penghapal Quran menikahi seorang perempuan asal Aceh.
Memang tak ada jerit tertahan kali ini. Memang tak ada teriakan histeria. Namun banyak sekali rangkaian kalimat yang mau tak mau membuat saya terenyuh.
Hai, para akhwat, apa yang terjadi dengan kalian?
Memang kalian tidak mengidolakan Shawn Mendez atau Zayn Malik. Kalian mengidolakan seorang muda penghapal Quran yang tak hanya pintar secara akademis namun juga secara spiritual. Tapi pantaskah segala macam ucapan,
"Ah mau deeeeh punya suami kayak Muzzamil, kayaknya hidup jadi adem ..."
Sis, istighfar atuh, sis. Izzah mana izzah? (= Kehormatan diri)
Lebih lucu lagi, ketika banyak emak-emak yang sama bapernya. Ikutan nimbrung berkomentar betapa kerennya seorang Muzzamil. Bahkan saya lihat seorang ibu mention nama suaminya di statusnya. Husnuzon-nya mah mungkin biar suaminya baca dan mencarikan menantu seperti Muzzamil untuk anak mereka. Ehh.
Ya ya, saya tahu. Mungkin sebagian dari mereka mungkin bercanda. Sebab saya juga tukang heureuy. Sebab saya juga ketawa geli membaca beberapa twit soal Hamish-Raisa atau Chelsea-Bastian.
Tapi ketika segerombolan remaja muslimah berjilbab rapi terpesona terhadap sosok-sosok tertentu, apalagi sampai baper berlebihan, kok saya ga enak melihatnya ya.
Mungkin karena ekspektasi saya terhadap para akhwat begitu tinggi. Mungkin. Padahal toh usia mereka sama mudanya dengan remaja lainnya.
Cerita sedikit.
Ada dua orang mahasiswi yang beres saya mengajar terkadang menunggu saya di tempat parkir. Buat apa? Buat curhat.
Salah satu dari mereka mengadu soal jodoh yang tak kunjung tiba, padahal dia sudah sangat ingin menikah. FYI, keduanya berjilbab amat rapi, sopan dan relijius.
Sementara yang satu lagi cemas soal bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis tanpa terjerumus fitnah.
Keduanya ingin segera mengakhiri masa kesendirian di usia muda (mereka usia sekitar 19-20 tahun) dan bertemu dengan ikhwan soleh.
"Soleh aja cukup?" Tanya saya.
"Ya harus udah punya penghasilan juga atuh Miss"
Saya mengangguk setuju.
"Siap berumahtangga?"
"Siap." Angguk mereka mantap.
"Siap jadi ibu?"
Mereka ketawa berdua.
Semakin lama mengobrol dengan mereka semakin ragu saya dengan itikad baik itu. Akhirnya saya menyarankan, bagaimana kalo sambil menunggu jodoh, mereka terus belajar dan bekerja. Karena kalau cuman menunggu aja, waktu yang ada jadi tersia-sia.
Anak-anakku yang solehah,
Saya yakin perempuan yang berjodoh dengan Muzzamil adalah perempuan istimewa. Ia pasti sama baik dan berharganya.
Urusan jodoh itu pelik dan serba mengejutkan. Sebab ia datang tak disangka. Namun ustadz saya selalu bilang, kalau kamu mau jodoh yang baik, kamu dulu yang baik. Kalau kamu pengen anakmu baik, kamu dulu yang jadi baik.
Jangan terjebak dengan mimpi menikah di usia muda dengan seseorang yang soleh dan mapan. Sebab jalan menuju ke sana tidak instan seperti indomie sambal matah.
Kenapa kalian tidak bertekad mendapatkan jodoh yang baik sambil santai? Ndak usah nggrusu, kata orang Jawa.
Sementara itu, pintarlah kamu. Belajar yang banyak. Sebab menikah bukan hanya soal memandangi suamimu yang ganteng sambil memanaskan sayur kiriman mertua.
Pada waktunya kamu akan tau bahwa tidak segampang itu hidup bersama orang yang sama seumur hidupmu.
Pada waktunya kamu mungkin akan hamil, melahirkan, mengurus anak. Sudah siap belum? Sementara nanti ada masa kehamilan yang berat, kelahiran yang super berat dan baby blues yang menyiksa.
Jangan terlalu sering nonton drama Korea atau film India yang endingnya pasti hepi. Pernikahan bukan hanya soal jantung yang menghentak saat ia memandangimu sambil menyodorkan setangkai mawar merah.
Please, be smart.
Sekarang kita butuh mamak-mamak yang pintar luar biasa. Emak bijak yang takkan gampang rempong saat membaca berita hoax yang belum tentu benar.
Dan untuk bisa begitu, tidak akan bisa dicapai hanya dengan menjerit-jerit melihat wajah Fatih Seferagic dan menangis baper melihat Muzzamil menikah.
Bangun hei,
Muzzamil dan Fatih itu contoh baik. Namun kalian tidak kenal mereka. Dan kecil kemungkinannya, kalian akan bertemu mereka lebih intens daripada sekedar menuliskan komen di instagram.
Jangan membuat para lelaki rendah diri sebab kalian terus-terusan menyebut nama penghapal Quran sebagai benchmark.
Mana tau ada lelaki di luar sana yang baik, agamanya bagus namun ia masih belajar mengaji. Jangan letakkan Muzzamil atau Fatih di antara kalian. Nanti mereka semakin melesak dalam jurang ketidakberdayaan dalam mendongkrak kepercayaan diri.
Sudah jomblo, kuliah belum beres, kerjaan belum jelas, saingannya penghapal Quran lagi.
Saya turut berduka cita deh.
Dan hei, para gadis.
Selagi ada waktu, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Jodoh belum datang, ga usah baper, sekolah lagi aja, sambil nunggu. Belum datang juga, kerja dulu. Santai aja. Kalau kamu usahanya oke, yakin dong sama janji Alloh.
Dan jangan menggampangkan persiapan pernikahan. Jangan berpikir bahwa semua lelaki asal baik akan langsung bisa melamar kamu. Sementara tuntutan masyarakat tinggi, tuntutan keluargamu tinggi. Memangnya kamu mau hanya dipinang pake uang seadanya plus ga pake resepsi? Kalo mau cepet sanah cari penghulu (dan lelaki yang mau).
Ingat, kamu itu hidupnya di dunia nyata. Bukan drama sinetron.
Bangun, dan belajarlah.
Mau mengejar karir kek, mau mendapat jodoh laki-laki soleh kek, semuanya butuh ilmu.
Kasihan anakmu kelak. Ia tak hanya butuh kamu sebagai ibu, tapi ia juga butuh merasa bangga memilikimu (meminjam istilah Pidi Baiq).
Salam perempuan!
*ibu beranak 4 yang ingin semua perempuan pintar*
Catatan:
Tulisan di bawah bikin saya mantap menuliskan ini, gemees akuuu 🤣🤣🤣🤣

No comments:

Post a Comment

Mohon komentar yang bermanfaat...
Orang bijak, komentarnya juga bijak n_n


Your comment will be moderated first before posted

Thanks